lintaspasundan.com. BERITA CIAMIS. Di tengah gempuran kuliner modern, makanan tradisional khas Sunda tetap menunjukkan daya tahan. Salah satunya wajit ketan jadul “Kareeut Rasa”.
Produk UMKM rumahan asal Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, yang konsisten bertahan selama tujuh tahun dan kini berhasil menembus pasar Jawa Tengah hingga Daerah Istimewa Yogyakarta.
Permintaan produk bahkan mengalami lonjakan signifikan selama Ramadan dan Idul Fitri. Peningkatan pesanan dari luar daerah mendorong intensitas produksi yang biasanya dilakukan tiga hingga empat kali dalam sepekan menjadi hampir setiap hari.
UMKM yang berada di bawah naungan Kartikasari Snack ini dikelola oleh Tati Sumiati dengan mengedepankan cita rasa autentik berbahan alami.
Wajit ketan Kareeut Rasa dibuat dari ketan pilihan, kelapa segar, dan gula, menghasilkan tekstur lengket khas (kareeut) serta rasa legit yang menjadi ciri makanan tradisional.
“Alhamdulillah, saat Ramadan dan Idul Fitri permintaan meningkat. Kami sampai harus produksi setiap hari untuk memenuhi pesanan, terutama dari luar daerah seperti Magelang dan Yogyakarta,” ujar Tati. Minggu (05/04/2026)
Komitmen terhadap kualitas dan keamanan pangan dibuktikan dengan kepemilikan Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) dari Pemerintah Republik Indonesia yang berlaku hingga 8 Desember 2026.
Legalitas tersebut memperkuat kepercayaan konsumen sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
“Dengan adanya legalitas, kami lebih percaya diri memasarkan produk, baik di Ciamis maupun ke luar daerah,” tambahnya.
Produk wajit ketan Kareeut Rasa dipasarkan dengan harga Rp40.000 per kilogram dan tersedia dalam kemasan eceran Rp15.000 per bungkus. Dari penjualan tersebut, mampu mencatatkan omzet rata-rata sekitar Rp12 juta per bulan.
Dstribusi produk tidak hanya menyasar toko oleh-oleh di wilayah Ciamis, tetapi juga telah menjangkau Magelang dan Yogyakarta, dengan target pengembangan pasar ke Semarang dan wilayah Jawa Tengah lainnya.
Selain mendorong ekonomi keluarga, usaha ini juga memberikan dampak sosial dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Saat ini, Kareeut Rasa mempekerjakan empat karyawan perempuan dan satu karyawan laki-laki. Jumlah tenaga kerja dapat bertambah saat produksi meningkat.
“Kalau pesanan banyak, Alhamdulillah bisa memberdayakan ibu-ibu dan warga sekitar,” tutur Tati.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama terkait ketersediaan bahan baku seperti cangkang jagung yang kerap sulit didapat saat permintaan tinggi.
Keterbatasan modal juga menjadi kendala ketika volume pesanan meningkat drastis.
“Kalau pesanan sedang tinggi, bahan baku kadang sulit didapat dan modal juga terbatas,” ungkapnya.
Ke depan, Tati berharap adanya dukungan kebijakan yang lebih berpihak kepada UMKM pangan tradisional, khususnya dalam kemudahan pengurusan dan keberlanjutan legalitas usaha.
“Harapannya ada kemudahan dalam legalitas, supaya kami bisa fokus menjaga kualitas produk dan memperluas pemasaran,” ujarnya.
Baca Juga : Jembatan Cirahong Gela Tanpa Penjaga Usai Pungli Viral dan Hujan Warga Desak Penanganan Cepat
UMKM Wajit Ketan Kareeut Rasa beralamat di Dusun Desa RT 17/RW 05, Desa Nasol, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis.
Pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp 0852-8393-1956 serta media sosial Instagram @kartikasarisnack dan Facebook Kartikasari.
Keberadaan UMKM ini menjadi bukti bahwa produk makanan tradisional yang dikelola secara konsisten, menjaga kualitas, serta didukung legalitas, mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri kuliner modern, sekaligus berkontribusi nyata terhadap perekonomian lokal. (ES)
