lintaspasundan.com, OPINI. Qasidah al-Burdah karya Imam Syarafuddin al-Bushiri bukan sekadar syair pujian kepada Rasulullah SAW. Di lingkungan pesantren, khususnya di Tatar Pasundan, karya sastra sufistik tersebut telah menjadi media dakwah, pendidikan akhlak, hingga penguatan spiritual lintas generasi.
Qasidah yang ditulis ulama besar asal Mesir itu dikenal luas di kalangan pesantren tradisional melalui jalur sanad ulama dan Tarekat Syadziliyah. Syair penuh cinta kepada Nabi Muhammad SAW tersebut berkembang kuat di Nusantara, terutama di lingkungan pesantren Jawa dan Pasundan.
Dalam sejarahnya, penyebaran Qasidah Burdah di tanah Jawa disebut memiliki keterkaitan dengan jalur dakwah ulama pesantren serta tokoh-tokoh besar seperti Sunan Gunung Jati. Tradisi pembacaan Burdah kemudian terus hidup melalui jaringan ulama abad ke-19 hingga ke-20. Kamis, (14/5/2026).
Beberapa tokoh pesantren yang dikenal memiliki mata rantai sanad keilmuan dan spiritual dalam tradisi tersebut di antaranya KH Muhammad Dalhar Pesantren Darussalam Watucongol, Kyai Siroj Payaman, KH Ahmad Ngadirejo, Kyai Abdullah bin Abdul Muthalib, Kyai Abdurrahman Sumolangu hingga KH Muhammad Hassan Jazuli.
Tradisi Tarekat Syadziliyah sendiri diketahui bersambung hingga kepada pendirinya, Syekh Abul Hasan Ali asy-Syadzili, kemudian diteruskan oleh para ulama besar seperti Syekh Abul Abbas al-Mursi dan Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari hingga sampai kepada para ulama Nusantara.
Di Indonesia, salah satu tokoh yang dikenal membawa dan menjaga sanad Tarekat Syadziliyah adalah Habib Luthfi bin Yahya. Tarekat tersebut dikenal menekankan keseimbangan kehidupan duniawi dan ukhrawi melalui wirid serta pembinaan akhlak yang relevan dengan kehidupan modern.
KH Ahmad Fadil dan Burdah Berbahasa Sunda
Di Tatar Pasundan, perkembangan Qasidah Burdah tidak dapat dilepaskan dari peran besar KH Ahmad Fadil, pendiri Pondok Pesantren Darussalam Cidewa Ciamis. Ulama yang dikenal sebagai sastrawan pesantren itu menerjemahkan Qasidah Burdah ke dalam bahasa Sunda sastra tinggi dengan gaya bahasa yang indah dan mendalam.
Terjemahan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari tradisi pesantren di Jawa Barat sejak era 1920-an. Syair Burdah versi Sunda itu dikaji, dilantunkan dan diamalkan di berbagai pesantren oleh para ulama sufi Pasundan.
Beberapa tokoh ulama yang dikenal mengembangkan tradisi tersebut di antaranya KH Ahmad Sanusi Cantayan Sukabumi, KH Masturo Sukabumi, KH Ishak Farid Pesantren Cintawana Singaparna Tasikmalaya, KH Ilyas Ruhiyat Pesantren Cipasung Tasikmalaya hingga KH Bandanuji Ciamis.
Keindahan terjemahan KH Ahmad Fadil membuat karya tersebut begitu mudah diterima masyarakat pesantren. Tidak hanya mempertahankan makna, irama syair asli pun tetap terjaga dalam versi Sunda sehingga menjadikannya karya monumental di kalangan santri dan masyarakat Sunda.
Tradisi Burdah di Pesantren Darussalam Ciamis
Tradisi pembacaan Burdah hingga kini masih hidup kuat di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis. Syair-syair kerinduan kepada Rasulullah SAW rutin dilantunkan para santri selepas pengajian subuh maupun dalam kegiatan malam tertentu di lingkungan pesantren.
Pengkajian kandungan sufistik Burdah tersebut dipandu langsung oleh KH Fadlil Yani Ainusyamsi atau yang akrab disapa Kang Icep.
Sebagai cucu KH Ahmad Fadil dan putra KH Irfan Hielmy, Kang Icep dikenal melanjutkan tradisi keilmuan dan spiritual keluarga pesantren Darussalam, termasuk dalam pengembangan nilai-nilai tasawuf Tarekat Syadziliyah.
Saat menempuh pendidikan di Kairo, Mesir, Kang Icep diketahui mendalami ajaran tasawuf dan Tarekat Syadziliyah langsung kepada sejumlah ulama mursyid di kawasan Hay Syafi’iyah, Kairo.
Salah satu guru yang disebut berpengaruh dalam perjalanan spiritualnya ialah Syekh Yusri Rusydi. Dari ulama tersebut, Kang Icep mempelajari konsep tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa yang menjadi bagian penting ajaran tasawuf Syadziliyah.
Selain mendalami tasawuf, ia juga mempelajari ilmu sastra Arab, termasuk ilmu arudl wal qawafi, kepada Syekh Sulaim al-Mashry yang dikenal sebagai guru besar seni dan sastra Arab.
Burdah sebagai Media Dakwah dan Terapi Jiwa
Dalam pengembangannya, KH Fadlil Yani menghadirkan pendekatan baru terhadap pembacaan Burdah dengan sentuhan musikalisasi modern tanpa menghilangkan ruh spiritual syair tersebut.
Pendekatan itu dilakukan sebagai media edukasi sekaligus terapi jiwa di tengah perkembangan dunia hiburan modern yang dinilai semakin minim nilai-nilai spiritual dan pendidikan moral.
Menurutnya, syair-syair Burdah bukan hanya lantunan sastra religius, tetapi juga sarana menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW serta membangun ketenangan jiwa melalui pesan-pesan sufistik yang terkandung di dalamnya.
BACA JUGA: GERTAM CABAI Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Warga
Melalui lantunan Qasidah Burdah, tradisi pesantren di Tatar Pasundan terus menjaga warisan keilmuan, sastra dan spiritual Islam agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Bagi kalangan pesantren, Burdah bukan sekadar syair pujian, melainkan jalan menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW sekaligus mendekatkan jiwa kepada nilai-nilai kemuliaan dan ketakwaan. (𝙀𝙎)
Menabur Cinta Rasul Lewat Qasidah Burdah, Jejak Tarekat Syadziliyah di Tatar Pasundan
RELATED ARTICLES
