BerandaBerita CiamisBerikut Filosofi Haji Menurut Ali Syariati, Baca Selengkapnya!

Berikut Filosofi Haji Menurut Ali Syariati, Baca Selengkapnya!

lintaspasundan.com, BERITA CIAMIS. Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci. Lebih dari itu, haji merupakan perjalanan spiritual yang sarat makna, simbol perjuangan, serta proses transformasi diri menuju manusia yang lebih peduli terhadap sesama dan semakin dekat kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan Ang Icep dalam renungan Jumat bertajuk Filosofi Haji. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa haji adalah drama simbolik ketuhanan yang merekonstruksi perjalanan penciptaan manusia melalui kisah Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, dan Siti Hajar. Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, haji bukan hanya ritual keagamaan yang bersifat seremonial, melainkan revolusi batin untuk menghilangkan egoisme dan membentuk manusia universal yang memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Ang Icep juga mengutip pemikiran filsuf dan cendekiawan muslim asal Iran, Ali Shariati, yang dikenal luas melalui kajian filosofisnya tentang makna ibadah haji. Dalam pandangan Ali Syariati, setiap rangkaian ibadah haji memiliki simbol dan pesan moral yang mendalam bagi kehidupan manusia.

Miqat dan Ihram, Simbol Pelepasan Ego

Ali Syariati memaknai miqat dan pakaian ihram sebagai simbol pelepasan status sosial, kesetaraan manusia, dan penyucian diri. Ketika mengenakan ihram, seluruh manusia berada dalam posisi yang sama tanpa membedakan jabatan, kekayaan, maupun kedudukan sosial.

Prosesi tersebut menjadi pengingat bahwa manusia harus melepaskan sifat egois serta kembali kepada fitrah kesederhanaan di hadapan Allah SWT.

Haji sebagai Drama Spiritual Perjalanan Manusia

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa haji merupakan “teater spiritual” yang menghadirkan kembali perjalanan Nabi Adam sebagai simbol manusia, Nabi Ibrahim sebagai lambang perjuangan dan kebebasan, serta Siti Hajar sebagai simbol keteguhan dan pengorbanan.

Setiap tahapan ibadah haji menggambarkan perjuangan manusia dalam mencari makna kehidupan, menghadapi ujian, serta memperkuat ketakwaan kepada Sang Pencipta.

Makna Simbolik Ka’bah, Sa’i, dan Arafah

Ka’bah dimaknai sebagai pusat gravitasi spiritual umat manusia dan simbol keabadian Allah SWT. Sementara ritual sa’i antara Bukit Safa dan Marwah melambangkan optimisme, perjuangan, kerja keras, dan usaha tanpa mengenal lelah.

Adapun Padang Arafah dan Masy’ar dipandang sebagai simbol ilmu pengetahuan, kesadaran, kebijaksanaan, serta refleksi spiritual manusia dalam memahami hakikat kehidupan.

Sedangkan Mina dimaknai sebagai simbol cinta, pengorbanan, dan kesyahidan dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran.
Melempar Jumrah dan Perlawanan terhadap Keburukan

Prosesi melempar jumrah juga memiliki makna mendalam. Dalam filosofi Ali Syariati, ritual tersebut merupakan simbol jihad melawan berbagai bentuk keburukan dan penindasan dalam kehidupan manusia.

Tiga jumrah dimaknai sebagai perlambang perlawanan terhadap penindasan, kebodohan, dan kemunafikan yang dapat merusak moral serta kehidupan sosial masyarakat.

Haji Harus Membawa Perubahan Sosial dan Spiritual

Pada akhirnya, tujuan utama ibadah haji bukan hanya memperoleh gelar haji secara simbolis, melainkan menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan sosial maupun spiritual seseorang.

BACA JUGA: Andrew Jung Siap Hadapi Persija Bidik Kemenangan di Samarinda

“Haji yang benar harus mampu mengubah manusia dari sikap ‘aku’ menjadi ‘kita’, dari kepentingan pribadi menuju kepedulian terhadap sesama,” demikian pesan yang disampaikan dalam renungan tersebut.

Melalui pemahaman filosofis ini, ibadah haji diharapkan tidak berhenti sebagai ritual tahunan semata, tetapi menjadi momentum pembentukan karakter, peningkatan ketakwaan, dan pengabdian nyata bagi kemanusiaan. (𝙀𝙎)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments