lintaspasundan.com.BERITA CIAMIS.- Kunjungan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ke Jembatan Cirahong menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sejumlah warga menilai kegiatan tersebut belum sepenuhnya menyentuh persoalan utama yang selama ini dirasakan, terutama terkait aspek keamanan dan minimnya ruang dialog publik.
Salah seorang warga Pawindan, Ahmad Himawan atau yang akrab disapa Mas Ahim, mengungkapkan kekecewaannya karena tidak adanya kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada gubernur. Ia mengaku sempat berupaya mendekat, namun tidak menemukan ruang komunikasi terbuka.Kamis (9/4/2026).
“Harapannya ada sesi dialog atau tanya jawab dengan warga, tapi di lapangan tidak tersedia,” ujarnya.
Menurutnya, kunjungan tersebut lebih berfokus pada pemantauan kondisi fisik serta dokumentasi, tanpa diiringi interaksi dua arah yang melibatkan masyarakat sekitar. Padahal, warga menilai persoalan di lapangan tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keselamatan pengguna jalan.
Dalam kunjungan itu, Dedi Mulyadi meninjau kondisi jalur sempit di Jembatan Cirahong dan menyatakan bahwa arus kendaraan masih dapat dilalui dua arah. Namun, sebagian warga menilai pernyataan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil, khususnya pada jam sibuk.
Mas Ahim menjelaskan bahwa kepadatan lalu lintas kerap terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, saat aktivitas masyarakat meningkat, seperti berangkat kerja, sekolah, maupun ke pasar. Kondisi serupa juga terjadi pada sore hari ketika arus kepulangan memuncak.
Selain itu, faktor keamanan menjadi perhatian serius warga. Menurutnya, kondisi jembatan pada malam hingga dini hari cenderung sepi dan minim pengawasan, sehingga rawan terhadap tindak kejahatan.
“Kalau malam hari, terutama tengah malam, situasinya sepi dan rawan. Ini bukan hanya soal lalu lintas, tapi juga keamanan, terutama bagi perempuan yang melintas sendirian,” katanya.
Ia juga menyinggung adanya potensi kerawanan lain, termasuk insiden percobaan bunuh diri yang pernah terjadi di lokasi tersebut, sehingga diperlukan penanganan yang lebih komprehensif.
Sementara itu, dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi menyampaikan rencana penataan kawasan Jembatan Cirahong melalui peningkatan sarana dan prasarana. Upaya tersebut meliputi penambahan penerangan dari 26 menjadi 30 titik lampu, pemasangan marka jalan, serta pengecatan ulang jembatan.
Baca Juga : Parkir QRIS di Tasikmalaya Resmi Uji Coba di Jalan HZ Mustofa Solusi Praktis Tanpa Tunai
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga disebut telah berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia terkait rencana pengecatan jembatan yang menjadi ikon penghubung antara Ciamis dan Tasikmalaya tersebut.
Namun demikian, warga menilai langkah tersebut masih bersifat parsial dan lebih menitikberatkan pada aspek fisik semata. Mereka berharap adanya pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk peningkatan pengamanan dan kehadiran petugas di lapangan.
“Penambahan lampu, marka, atau CCTV memang penting, tapi belum cukup jika tidak diimbangi dengan penjagaan yang memadai,” tegasnya.
Ke depan, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penataan infrastruktur, tetapi juga membuka ruang aspirasi yang lebih luas serta menghadirkan solusi komprehensif yang mencakup aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengguna Jembatan Cirahong. ( 𝘿𝙉).
