lintaspasundan.com, BERITA CIAMIS. Di sebuah aula yang tak asing bagi banyak kenangan, ratusan langkah kembali dipertemukan. Minggu siang itu (12/4/2026), SMPN 2 Ciamis bukan sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan ruang hidup bagi cerita-cerita lama yang menemukan makna baru.
Tawa pecah di sudut ruangan, pelukan hangat terjadi tanpa ragu, dan nama-nama lama kembali disebut dengan penuh keakraban. Namun Halal Bihalal tahun ini terasa sedikit berbeda. Di balik suasana temu kangen yang kental, ada denyut lain yang pelan tapi pasti, kesadaran untuk kembali memberi.
Melalui IKA NEDACIS, para alumni tak lagi sekadar pulang untuk mengenang, tetapi juga untuk merancang masa depan. Dari berbagai angkatan dan latar belakang, mereka datang dengan satu benang merah: rasa memiliki terhadap sekolah yang pernah membentuk langkah awal kehidupan mereka.
Di tengah keramaian, sosok H. Didi Sukardi, Ketua IKA Nesacis tampak menyatu dengan para alumni lain, memperkuat semangat kebersamaan. Tidak ada sekat, tidak ada jarak, yang ada hanya perasaan bahwa semua pernah berdiri di titik yang sama.

Ketua IKA NEDACIS, Drs. H. Akasah, menangkap betul arah energi itu. Baginya, silaturahmi hanyalah pintu masuk.
“Kalau hanya berhenti di temu kangen, kita kehilangan peluang besar. Justru setelah ini, harus ada langkah nyata. Alumni punya kekuatan untuk ikut membangun pendidikan,” tuturnya dengan nada tenang, namun penuh keyakinan.
Pesan itu seperti gema yang menyebar di antara peserta. Bahwa kenangan masa sekolah bukan untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibalas dengan kontribusi.
Di sisi lain, Kepala SMPN 2 Ciamis, Amar, menyambut kehadiran para alumni dengan rasa bangga yang sulit disembunyikan. Baginya, kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan, tetapi suntikan semangat bagi seluruh ekosistem sekolah.
“Alumni itu bagian dari keluarga. Dukungan mereka terasa nyata, apalagi ketika ikut memikirkan masa depan siswa-siswa sekarang,” ujarnya.
Di balik kursi-kursi aula dan dinding yang menyimpan sejarah panjang, hari itu lahir sesuatu yang lebih dari sekadar pertemuan. Ada tekad yang mulai dirangkai, ada ide yang mulai tumbuh, dan ada harapan yang perlahan disusun bersama.
Halal Bihalal ini menjadi semacam pengingat halus: bahwa hubungan antara sekolah dan alumni tidak pernah benar-benar usai. Ia hanya berubah bentuk, dari ruang kelas menjadi ruang kontribusi.
Dan dari IKA NEDACIS, sebuah gerakan kecil terus dirawat. Gerakan yang berangkat dari rasa terima kasih, lalu berkembang menjadi kepedulian. Bukan lagi tentang siapa dulu yang paling berprestasi, tapi siapa hari ini yang mau ikut berbuat.
Di aula sederhana itu, masa lalu dan masa depan akhirnya duduk berdampingan. (BS)
