lintaspasundan.com, BERITA.CIAMIS.- Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, KH Fadlil Yani Ainusyamsi yang akrab di panggil Ang Icep, mengingatkan masyarakat untuk memperkuat nilai keagamaan di tengah perubahan sosial yang berkembang di berbagai negara.
Menurut Ang Icep, umat Islam perlu menyikapi setiap fenomena sosial dengan berpegang pada ajaran agama, akhlak, serta prinsip kehidupan berbangsa yang menjunjung ketertiban dan kedamaian. Jumat (10/7/2026).
Ia menyoroti munculnya beragam kampanye sosial di ruang publik internasional, termasuk yang ramai dibicarakan menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.
Ang Icep menilai, masyarakat perlu meningkatkan literasi agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi maupun gerakan yang dianggap bertentangan dengan keyakinan dan nilai yang dianut.
“Umat harus memiliki pegangan yang kuat. Pendidikan agama, keteladanan keluarga, dan lingkungan yang baik menjadi benteng penting bagi generasi muda,” ujarnya.
Ia juga menyinggung informasi mengenai rencana kegiatan komunitas transgender tingkat Asia Tenggara di Jakarta yang beredar di media sosial dan sejumlah kanal informasi.
Ang Icep meminta masyarakat menyikapi setiap informasi secara bijak. Ia menegaskan penolakan terhadap suatu pandangan tidak boleh diwujudkan melalui diskriminasi atau kekerasan.
Menurutnya, persoalan LGBT perlu disikapi secara tegas melalui penguatan pendidikan agama, pembinaan akhlak, dan perlindungan nilai moral dalam kehidupan masyarakat.
Ang Icep juga mengajak umat Islam mengambil pelajaran dari kisah Nabi Luth AS sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an.
Kisah tersebut, kata dia, mengandung pesan tentang pentingnya iman, pertobatan, serta kepatuhan manusia terhadap perintah Allah SWT.
Ia mengutip Surah Al-‘Ankabut ayat 29 yang menggambarkan penolakan kaum Nabi Luth terhadap peringatan yang disampaikan oleh nabi mereka.
Ang Icep juga menyebut Surah Hud ayat 82 hingga 83 sebagai bagian dari gambaran azab yang menimpa kaum Nabi Luth setelah mereka terus melakukan pembangkangan.
Namun, ia menegaskan bahwa pesan utama dari kisah tersebut adalah ajakan untuk memperbaiki diri, memperkuat akhlak, dan menjauhi perbuatan yang diyakini bertentangan dengan ajaran agama.
“Peringatan agama hendaknya menjadi bahan introspeksi. Jangan sampai perbedaan pandangan justru melahirkan kebencian, fitnah, atau tindakan yang merugikan sesama,” katanya.
Baca Juga : Pemkab Ciamis Percepat target pad semester II 2026
Ia berharap para tokoh agama, keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah dapat bersama-sama membangun ruang sosial yang sehat bagi generasi muda.
Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga ketahanan moral masyarakat sekaligus memperkuat kehidupan yang damai, tertib, dan saling menghormati di Indonesia. (ES)
