lintaspasundan.com, BERITA.CIAMIS.- Peluncuran buku Antologi Badai karya KH Fadlil Yani Ainusyamsi berlangsung hangat di Joglo Darussalam, Rabu malam (5/8/2026). Acara itu dihadiri pegiat literasi, budayawan, dan pecinta puisi.
Salah satu perwakilan Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI), juga ketua Ikatan Alumi Smp Negri 2 Ciamis Drs H. Akasah menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Menurutnya, karya itu layak disyukuri sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda.
“Launching buku ini patut kita syukuri. Lebih dari itu, harus menjadi motivasi bagi anak-anak muda untuk terus berkarya melalui literasi,” ujarnya.
Akasah mengungkapkan, sebagian besar puisi dalam Antologi Badai lahir pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020. Situasi sulit saat itu justru melahirkan karya yang penuh kejujuran dan ketulusan.
“Puisi-puisi itu lahir ketika kita sedang tertekan. Karena ditulis dari relung hati, hasilnya terasa menyentuh dan memiliki kekuatan emosional,” katanya.
Ia juga mengapresiasi produktivitas KH Fadlil Yani Ainusyamsi. Dalam waktu relatif singkat, penulis mampu melahirkan puluhan karya sastra yang menjadi bukti konsistensi dalam berkarya.
“Bahkan saya menghitung, beliau telah menghasilkan puluhan hingga mendekati seratus karya. Itu pencapaian yang luar biasa dalam waktu yang singkat,” ungkapnya.
Menurut Akasah, beberapa puisi bahkan ditulis pada tengah malam ketika inspirasi datang. Salah satunya berjudul Lilin, yang dinilai lahir dari suara hati dan perenungan mendalam.
“Itu benar-benar ditulis dari nurani. Karena itulah puisinya terasa hidup dan dekat dengan pembaca,” ucapnya.
Sebagai pegiat literasi, Akasah mengaku ingin ikut memperkenalkan buku tersebut kepada masyarakat. Ia berharap karya itu dapat dipasarkan melalui berbagai komunitas yang dibinanya.
“Saya memiliki beberapa komunitas, termasuk alumni SMPN 2 dan LLI. Ke depan kami ingin ikut membantu memasarkan buku ini agar lebih banyak dibaca masyarakat,” katanya.
Akasah menilai membaca puisi mampu menyentuh perasaan pembaca. Menurutnya, karya sastra tetap memiliki tempat meski masyarakat kini hidup di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.
Ia juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan atau AI dalam dunia kepenulisan. Meski teknologi terus berkembang, ia menilai karya yang lahir dari pengalaman batin tetap memiliki nilai yang berbeda.
“Boleh saja teknologi berkembang, tetapi sentuhan hati dan pengalaman hidup penulis tidak bisa digantikan begitu saja,” ujarnya.
Baca Juga : Buku Antologi Badai Resmi Diluncurkan Rekam Jejak Pandemi
Dalam pandangannya, era digital membawa perubahan besar terhadap budaya literasi. Tantangan terbesar justru dirasakan kalangan yang sulit beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Orang yang tidak mampu menyesuaikan diri akan tertinggal. Namun kita tetap harus memiliki kendali dalam menggunakan teknologi digital,” katanya.
Akasah mengajak masyarakat memanfaatkan teknologi secara bijak, termasuk memilih konten yang memberikan nilai positif dan memperkuat karakter.
“Di dunia digital juga banyak hal baik. Tinggal bagaimana kita memilih dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang membangun,” pungkasnya (ES)
