BerandaBerita CiamisHUT RI ke-81: Fadlil Yani Soroti Kehampaan Rasa Rakyat Semesta

HUT RI ke-81: Fadlil Yani Soroti Kehampaan Rasa Rakyat Semesta

lintaspasundan.com.BERITA.CIAMIS.- Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tokoh masyarakat Tatar Galuh Ciamis, Fadlil Yani Ainusyamsi, menyampaikan refleksi tentang makna kemerdekaan.

Fadlil Yani Ainusyamsi yang akrab disapa Ang Icep menilai, usia 81 tahun menjadi momentum penting untuk melakukan muhasabah nasional. Menurutnya, kemerdekaan perlu dirasakan nyata oleh seluruh rakyat.Minggu (16/8/2026).

Delapan dekade lebih telah berlalu sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Kini, Indonesia memasuki usia kemerdekaan ke-81 pada 2026.

Menurut Ang Icep, angka 81 bukan sekadar simbol usia bangsa. Perjalanan panjang tersebut seharusnya menjadi cermin untuk melihat sejauh mana cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan dalam kehidupan rakyat.

Di tengah kemeriahan perayaan HUT RI, ia melihat adanya fenomena sosial yang patut menjadi perhatian bersama. Salah satunya adalah munculnya rasa hampa di tengah sebagian masyarakat terhadap makna kemerdekaan.

“Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari rasa takut, kemiskinan, kebodohan dan ketidakpastian masa depan,” demikian pokok refleksi Ang Icep.

Ia menilai, masih terdapat jarak antara narasi besar tentang kemerdekaan dengan realitas kehidupan masyarakat. Beban ekonomi dan berbagai persoalan sosial membuat sebagian rakyat belum sepenuhnya merasakan kesejahteraan.

Perayaan HUT RI seperti upacara, karnaval dan berbagai perlombaan tetap penting sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa. Namun, menurutnya, kemerdekaan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial.

Ang Icep menyoroti persoalan kesenjangan ekonomi yang masih menjadi pekerjaan besar. Pertumbuhan ekonomi, menurutnya, harus mampu memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat hingga lapisan paling bawah.

Selain persoalan ekonomi, kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas kehidupan demokrasi. Kepercayaan tersebut harus dirawat melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Ia juga menyoroti kecemasan generasi muda, khususnya terkait lapangan pekerjaan, biaya pendidikan dan kesempatan memiliki rumah. Persoalan tersebut dinilai dapat memengaruhi optimisme generasi penerus dalam memandang masa depan.

Bagi Ang Icep, berbagai kegelisahan tersebut tidak seharusnya dimaknai sebagai keputusasaan. Sebaliknya, rasa hampa perlu dibaca sebagai alarm moral untuk memperbaiki cara bangsa merawat kemerdekaan.

Momentum HUT RI ke-81, kata dia, semestinya menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali hubungan antara negara dan rakyat. Pemerintah perlu mendengar denyut kehidupan masyarakat secara langsung.

Kebijakan publik juga diharapkan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Keadilan sosial, pemerataan kesejahteraan dan kepastian hidup masyarakat harus menjadi bagian utama dari pembangunan nasional.

Di tengah berbagai tantangan, Ang Icep menilai gotong royong tetap menjadi kekuatan penting bangsa Indonesia. Kepedulian antarsesama dapat menjadi fondasi sosial dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Menurutnya, keberanian untuk berubah juga diperlukan. Ketimpangan, korupsi dan berbagai bentuk ketidakadilan harus terus dilawan melalui kesadaran bersama serta keberanian moral seluruh elemen bangsa.

Kepada para pemangku kepentingan, Ang Icep menyampaikan pesan agar kekuasaan dan jabatan tidak dipandang sebagai sesuatu yang abadi. Setiap amanah memiliki batas waktu dan harus dipertanggungjawabkan.

Ia mengutip hikmah penyair Mesir Muhammad Shadiq Al-Rafi’ie tentang manusia yang diibaratkan seperti cahaya bulan purnama. Cahaya itu menerangi dunia untuk sementara, kemudian meredup dan akhirnya sirna.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pemegang amanah memiliki masa pengabdian. Karena itu, kesempatan yang dimiliki seharusnya digunakan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Pada akhirnya, HUT RI ke-81 bukan sekadar perayaan bertambahnya usia Republik Indonesia. Momentum tersebut merupakan cermin untuk melihat kembali perjalanan bangsa dan memastikan kemerdekaan memiliki makna nyata.

Baca Juga : Kesadaran Warga Goler Jadi Kekuatan Utama Penilaian K3.

“Kemerdekaan bukan sekadar teriakan di bulan Agustus, melainkan kepastian hidup yang dirasakan setiap hari oleh setiap anak bangsa,” menjadi inti refleksi Ang Icep.

Ia berharap peringatan HUT RI ke-81 dapat membangkitkan kembali semangat kebangsaan. Kemerdekaan harus terus diisi dengan keadilan, kejujuran, gotong royong dan kesejahteraan yang dirasakan seluruh rakyat Indonesia”. Pungkasnya. (ES).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments