BerandaBerita CiamisSPPG De La Tina Ciamis Perkuat Standar Dapur MBG

SPPG De La Tina Ciamis Perkuat Standar Dapur MBG

lintaspasundan.com.BERITA.CIAMIS.- SPPG De La Tina di Desa Padaringan, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, memperkuat standar operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penerapan higiene, keamanan pangan, sanitasi, dan pengelolaan limbah.

Dapur SPPG De La Tina dengan ID SPPG YY2TIIFZ merupakan bagian dari SPPG Yayasan Garuda Galuh Ciamis dalam program Badan Gizi Nasional (BGN). Operasional dapur dimulai sejak 15 Desember 2025.

Kepala SPPG De La Tina, Mohamad Ilham Syah Rizal, mengatakan sejumlah kelengkapan sertifikasi menjadi bagian penting dalam mendukung operasional dapur sesuai SOP dan ketentuan BGN.

“Setiap harinya kadang penerima manfaat berubah, ada yang bertambah. Tapi kita usahakan semuanya bisa terpenuhi dan dilayani sesuai SOP serta aturan BGN,” ujar Ilham, Jumat (25/9/2026).

Salah satu fasilitas pendukungnya adalah IPAL Biofilter Anaerobik BIOFAL dari PT FAL JAYA ABADI yang telah bersertifikat ISO. Sistem ini digunakan untuk membantu mengolah air limbah yang berasal dari aktivitas dapur.

IPAL tersebut membantu mengurangi kadar pencemar dalam air, antara lain BOD, COD, dan TSS. Pengolahan limbah menjadi bagian dari rangkaian pengelolaan lingkungan setelah proses produksi makanan.

Selain IPAL, SPPG De La Tina telah memiliki sertifikat halal, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta sertifikasi penjamah makanan. Kelengkapan tersebut mendukung penerapan standar higiene dan keamanan pangan.

Saat ini SPPG De La Tina melayani 2.347 penerima manfaat, termasuk kelompok B3, yakni balita, ibu menyusui, dan ibu hamil. Jumlah penerima manfaat mengalami perubahan sejak dapur mulai beroperasi.

Pengawas Gizi SPPG De La Tina, Eri Supriatna, SKM, mengatakan penyusunan menu mengacu pada ketentuan BGN dengan mempertimbangkan kebutuhan gizi penerima manfaat.

“Kita merancang menu sesuai standar dari BGN dan apa saja yang diperbolehkan. Kita mengikuti alurnya agar tidak ada kendala,” kata Eri.

Penyesuaian juga dilakukan bagi penerima manfaat dengan kebutuhan khusus, seperti stunting, ibu hamil KEK, serta bayi usia 6–12 bulan. Untuk penerima manfaat stunting, menu dapat disesuaikan dengan tambahan sumber protein sesuai ketentuan.

Dalam menentukan menu, SPPG De La Tina turut memperhatikan masukan dari sekolah dan posyandu. Makanan yang banyak dikonsumsi maupun kurang diminati menjadi bahan evaluasi untuk penyusunan menu berikutnya.

Penyesuaian menu juga dilakukan bagi penerima manfaat yang memiliki alergi makanan. Jika terdapat alergi terhadap telur, misalnya, sumber protein dapat diganti dengan bahan pangan lain sesuai kebutuhan.

Pengawasan kualitas makanan dimulai sejak bahan baku tiba di dapur. Setiap bahan diperiksa dan disortir untuk memastikan kondisinya layak sebelum digunakan dalam proses produksi.

Pemeriksaan dilanjutkan pada tahap persiapan, pengolahan, hingga pemorsian. Bahan yang tidak memenuhi standar tidak digunakan untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan.

Sebelum distribusi, SPPG De La Tina juga mengambil sampel makanan sejak awal proses memasak. Sampel disimpan untuk membantu pemeriksaan sebelum makanan dikirim kepada penerima manfaat.

Higiene personel turut menjadi perhatian. Para relawan dan juru masak diwajibkan menjalankan SOP, menggunakan alat pelindung diri (APD), sarung tangan, serta menerapkan prosedur sanitasi untuk mencegah kontaminasi.

Makanan yang telah selesai diporsikan kemudian dikirim dalam kondisi tertutup. Menurut Eri, waktu antara proses memasak hingga makanan diterima penerima manfaat berada pada rentang empat hingga enam jam.

SPPG De La Tina juga mencatat sisa makanan sebagai bahan evaluasi. Menu yang banyak tersisa menjadi pertimbangan untuk mengetahui tingkat penerimaan sekaligus menentukan penyusunan menu berikutnya.

Sebagian sisa pangan seperti sayuran dan bahan makanan yang tidak digunakan dimanfaatkan untuk pakan maggot yang dibudidayakan di wilayah Pulowerang, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis.

Baca Juga :GP Ansor Ciamis Dikukuhkan Bawa Program Ekonomi

Untuk menjaga kualitas pelayanan, SPPG De La Tina membuka saluran komunikasi melalui grup WhatsApp. Laporan mengenai bahan makanan yang rusak dapat disampaikan dengan menyertakan bukti untuk ditindaklanjuti.

Dengan penerapan sertifikasi, pengawasan bahan baku, standar higiene, pemeriksaan makanan, pengelolaan limbah, hingga evaluasi menu, SPPG De La Tina berupaya menjalankan layanan MBG sesuai SOP dan ketentuan BGN.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya SPPG De La Tina menjaga kualitas proses produksi sekaligus memastikan makanan bergizi dapat diterima oleh penerima manfaat secara aman dan sesuai standar.  ( HMY).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments