lintaspasundan.com, BERITA.CIAMIS.- Nilai kebangsaan tidak hanya berbicara tentang cinta tanah air, persatuan, dan bela negara. Nilai tersebut juga harus diwujudkan melalui kemampuan negara menjamin kebutuhan dasar rakyat, termasuk hak memperoleh pangan dan terbebas dari kelaparan.
Hal itu disampaikan KH Fadlil Yani Ainusyamsi, yang akrab disapa Ang Icep, saat menyampaikan pandangannya tentang hubungan nilai kebangsaan dengan persoalan kelaparan. Jumat (21/8/2026).
Menurut Ang Icep, kemerdekaan dan nasionalisme akan kehilangan makna apabila masih ada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.
Karena itu, kesejahteraan rakyat harus menjadi bagian penting dalam pengamalan nilai kebangsaan. Dalam perspektif Pancasila, terbebas dari kelaparan berkaitan erat dengan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Pemenuhan pangan bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan menyangkut hak dasar manusia yang harus dijamin secara berkelanjutan.
“Nasionalisme yang nyata harus diwujudkan melalui kerja dan kebijakan yang mampu memastikan rakyat mendapatkan pangan yang cukup. Negara harus hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan,” ujar Ang Icep.
Ang Icep menilai kedaulatan pangan juga menjadi bagian penting dari kekuatan sebuah negara. Negara yang kuat harus mampu menjaga ketersediaan pangan dan memenuhi kebutuhan rakyat agar tidak mudah terguncang ketika menghadapi krisis.
Menurut Ang Icep, nilai kebangsaan juga dapat dipahami melalui perspektif Al-Qur’an yang mengakui keberagaman manusia.
Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal atau li ta’arafu, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13.
“Prinsip persatuan ditegaskan pula dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103. Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Pesan tersebut menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan bangsa yang rukun.” katanya.
Lebih lanjut Ang Icep menuturkan bahwa dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 juga menegaskan kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh suku, bangsa, maupun status sosial. Ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan, sehingga perbedaan semestinya menjadi kekuatan untuk saling menghormati.
Dalam perspektif Al-Qur’an, kelaparan dapat menjadi bagian dari ujian kehidupan. QS. Al-Baqarah ayat 155 menyebut rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan sebagai bentuk cobaan yang dihadapi manusia.
Namun, ujian tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan penderitaan sesama. Islam mengajarkan tanggung jawab sosial melalui kepedulian kepada fakir miskin, pemberian makanan, serta upaya membantu masyarakat yang mengalami kesulitan.
Karena itu, persoalan kelaparan tidak semestinya hanya dipandang sebagai masalah individu. Ketahanan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan peran negara, masyarakat, lembaga sosial, dan seluruh elemen bangsa.
Nilai kebangsaan dan upaya mengatasi kelaparan pada akhirnya memiliki tujuan yang sama, yakni membangun kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera, bermartabat, dan memiliki ketahanan.
Nasionalisme harus hadir dalam bentuk nyata yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat. Bagi Ang Icep, mencintai Indonesia bukan hanya diwujudkan melalui simbol dan ucapan.
Cinta tanah air juga harus terlihat dari kepedulian terhadap kehidupan rakyat, termasuk memastikan tidak ada masyarakat yang dibiarkan menghadapi kelaparan seorang diri.
Baca Juga : persiapan Pilkades Ciamis 2026, 175 TPS Disiapkan
Dengan demikian, tambah Ang Icep nilai kebangsaan, Pancasila, dan ajaran Al-Qur’an memiliki titik temu dalam penghormatan terhadap martabat manusia.
“Negara yang kuat bukan hanya berdaulat secara politik, tetapi juga mampu memastikan rakyat hidup layak dan terbebas dari ancaman kelaparan,” pungkasnya. ( 𝙀𝙎).
