BerandaOpiniDinasti Mongol Gagal Menguasai Nusantara: Membaca Strategi Raden Wijaya dan Jejak Sunda-Galuh

Dinasti Mongol Gagal Menguasai Nusantara: Membaca Strategi Raden Wijaya dan Jejak Sunda-Galuh

lintaspasundan.com.opini,. Tutugan Galunggung, Pemerhati Seni Budaya dan Sejarah Situs
Sejarah bukan sekadar catatan tentang pergantian kekuasaan, peperangan, dan kejayaan kerajaan. Sejarah juga menyimpan pelajaran mengenai strategi politik, kecerdikan diplomasi, serta hubungan antarkerajaan yang turut membentuk perjalanan peradaban Nusantara.

Salah satu peristiwa penting yang menarik untuk dikaji adalah kegagalan ekspedisi militer Mongol menguasai Jawa pada 1293 M. Peristiwa ini tidak hanya berkaitan dengan lahirnya Kerajaan Majapahit, tetapi juga membuka ruang pembahasan mengenai hubungan historis antara Sunda-Galuh, Singhasari, dan Majapahit.

Dari Kejatuhan Baghdad hingga Ekspedisi ke Jawa
Pada 1258 M., pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan menaklukkan Baghdad. Peristiwa tersebut menjadi titik balik penting dalam sejarah dunia Islam karena berakhirnya kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Kejatuhan itu dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kelemahan internal pemerintahan dan serangan militer Mongol.

Beberapa dekade kemudian, kekuasaan Mongol di bawah Dinasti Yuan yang dipimpin Kubilai Khan memperluas pengaruhnya ke Asia Timur dan Asia Tenggara. Pada 1293 M., pasukan Mongol dikirim ke Jawa untuk menghadapi Kertanegara, penguasa Singhasari yang sebelumnya menolak tuntutan tunduk kepada Kubilai Khan.

Pengiriman ekspedisi tersebut berkaitan dengan penghinaan terhadap utusan Mongol, Meng-qi, pada 1289 M. Namun, situasi politik Jawa telah berubah. Kertanegara terbunuh dalam serangan Jayakatwang, penguasa Kediri, pada 1292 M.

Kondisi itu dimanfaatkan Raden Wijaya, menantu Kertanegara, untuk menyusun strategi. Ia bekerja sama dengan pasukan Mongol dalam menghadapi Jayakatwang. Setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menghadapi pasukan Mongol hingga mereka terpaksa meninggalkan Jawa.

Keberhasilan tersebut menjadi bagian penting dari proses berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293 M. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa kekuatan militer besar tidak selalu menjamin kemenangan ketika berhadapan dengan kecerdikan membaca situasi politik dan kondisi lokal.

Menelusuri Jejak Sunda-Galuh dalam Silsilah Raden Wijaya
Di luar narasi peperangan, terdapat perspektif sejarah yang menghubungkan Raden Wijaya dengan lingkungan bangsawan Sunda-Galuh.

Dalam kajian silsilah yang berkembang di kalangan pemerhati sejarah lokal, Raden Wijaya disebut sebagai cucu Prabu Guru Darmasiksa, penguasa Sunda-Galuh yang dikaitkan dengan masa pemerintahan 1175–1297 M. Prabu Guru Darmasiksa juga dihubungkan dengan riwayat kekuasaan di Galunggung dan Saung Galah.

Raden Wijaya disebut memiliki garis keturunan Sunda dari ayahnya, Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Guru Darmasiksa. Sementara itu, ibunya, Dyah Lembu Tal atau Dyah Singamurti, dihubungkan dengan keluarga bangsawan Singhasari.

Menurut tradisi silsilah tersebut, setelah Rakeyan Jayadarma wafat, Dyah Singamurti kembali ke Singhasari bersama Raden Wijaya yang masih kecil, dengan pengawalan prajurit Sunda.

Kisah ini memperlihatkan adanya narasi hubungan kekerabatan lintas kerajaan yang patut ditelusuri lebih jauh. Namun, hubungan genealogis tersebut perlu diuji melalui sumber primer, prasasti, naskah kuno, dan kajian historiografi agar dapat ditempatkan secara tepat dalam rekonstruksi sejarah.

Pesan Persaudaraan di Balik Kekuasaan

Dalam tradisi tutur yang berkembang di kalangan keluarga dan pemerhati sejarah Sunda, Prabu Guru Darmasiksa dikisahkan menyambut keberhasilan Raden Wijaya mendirikan Majapahit dengan penuh kebanggaan.

Bahkan, terdapat kisah mengenai pesan sang kakek agar Raden Wijaya dan keturunannya menjaga hubungan baik dengan Kerajaan Sunda serta tidak menyerang tanah Sunda. Tahta Sunda, menurut kisah tersebut, kelak diteruskan oleh Prabu Citra Ganda.

Pesan itu mengandung nilai yang relevan untuk direnungkan: kejayaan sebuah kerajaan seharusnya tidak menghapus ikatan persaudaraan. Kekuasaan tidak semestinya menjadi alasan untuk memutus hubungan kekerabatan maupun menaklukkan keluarga sendiri.

Meski demikian, kisah mengenai pertemuan Raden Wijaya dengan Prabu Guru Darmasiksa dan amanat tersebut perlu dibedakan dari fakta yang telah terkonfirmasi melalui sumber sejarah tertulis. Penelusuran terhadap naskah dan bukti sezaman menjadi penting agar tradisi tutur tidak serta-merta diperlakukan sebagai fakta sejarah yang pasti.

Membaca Sejarah dengan Kritis

Kegagalan ekspedisi Mongol di Jawa merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Nusantara. Raden Wijaya berhasil memanfaatkan konflik politik untuk membangun kekuasaan baru, sementara pasukan Mongol tidak mampu mempertahankan keberadaannya di Jawa.

Akan tetapi, istilah gagal menguasai Nusantara perlu dipahami secara proporsional. Ekspedisi Mongol pada 1293 M terutama diarahkan ke Jawa, bukan merupakan operasi untuk menguasai seluruh wilayah Nusantara yang memiliki beragam kerajaan dan kekuatan politik.

Karena itu, sejarah perlu dibaca melalui dua pendekatan yang saling melengkapi: penghargaan terhadap tradisi lokal dan ketelitian terhadap bukti sejarah. Keduanya penting agar kebanggaan terhadap warisan leluhur tidak berhenti sebagai cerita, tetapi berkembang menjadi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi masyarakat Sunda, penelusuran sejarah Sunda-Galuh dan hubungannya dengan Majapahit merupakan bagian dari upaya merawat ingatan kolektif. Namun, penghormatan terhadap leluhur akan semakin bermakna apabila disertai keterbukaan terhadap penelitian, kritik sumber, dan temuan baru.

Tutugan Galunggung, Tasikmalaya, Oktober 2026

Penyusun:
Acep Aan, S.Ag.
Keluarga Besar Raden Ali Santana, Cisayong — Trah Raden Singamanggala bin Dalem Sawidak Sukapura.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments