lintaspasundan.com.BERITA.CIAMIS.- Bupati Ciamis H. Herdiat Sunarya menyoroti perbedaan data stunting Ciamis antara hasil survei dan pendataan di tingkat daerah. Perbedaan tersebut mencapai 4,4 persen.
Hal itu disampaikan Bupati saat menghadiri Temu Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam rangka program MBG 3B di Gedung K.H. Irfan Hielmy Islamic Center Ciamis, Selasa (29/9/2026).
Menurut Bupati data yang dihimpun melalui posyandu menjadi salah satu basis penting pemerintah daerah dalam memantau kondisi stunting di Kabupaten Ciamis.
“Data dari posyandu, Insyaallah akurat. Hanya 4,4 persen antara hasil survei dengan data kami. Kami bukan survei, tapi kami sensus,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menyambut kunjungan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI, Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd. Kegiatan diikuti perwakilan kader TPK dari 27 kecamatan.
Bupati mengatakan Pemkab Ciamis terus melibatkan organisasi perangkat daerah dalam percepatan penurunan stunting. Pembinaan dan pendampingan juga dilakukan secara berkelanjutan melalui wilayah kecamatan.
Menurutnya, kualitas data menjadi bagian penting dalam penanganan stunting. Data yang akurat diperlukan untuk menentukan keluarga sasaran dan memastikan intervensi pemerintah tepat di lapangan.
Selain stunting,Bupati memaparkan perkembangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Ciamis. Saat ini telah terbentuk 199 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), namun baru 80 SPPG yang beroperasi.
Program MBG juga berkaitan dengan peran kader TPK melalui protokol MBG 3B yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai kelompok sasaran.
Kepala DPPKBP3A Kabupaten Ciamis, dr. H. Yoyo, MM.Kes., mengatakan kader TPK berperan memastikan intervensi pemerintah diterima keluarga sasaran secara tepat.
TPK terdiri dari kader kependudukan dan KB, kader kesehatan, serta kader pemberdayaan masyarakat. Ketiganya melakukan pendataan, pendampingan kesehatan ibu dan anak, serta pengawalan intervensi di lapangan.
Yoyo mengatakan kader TPK Ciamis juga berkomitmen mengawal Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) dan protokol MBG 3B sepanjang 2026.
“Memastikan bahwa setiap gram asupan gizi yang disalurkan pemerintah benar-benar dikonsumsi oleh sasaran yang tepat, terdata dengan valid, dan dievaluasi perkembangannya setiap bulan,” katanya.
Sementara itu, Menteri Wihaji menekankan pentingnya pendampingan keluarga sejak sebelum pasangan memiliki anak. Pencegahan stunting, kata dia, harus dilakukan sejak hulu.
Pendampingan dilakukan mulai dari calon pengantin, ibu hamil, ibu pascasalin, baduta, hingga balita. Kader TPK dinilai memiliki peran penting karena berhadapan langsung dengan keluarga di lapangan.
Baca Juga : Kader TPK Ciamis Dipuji Menteri Wihaji, Garda Keluarga
“Ini para pahlawan keluarga di Indonesia. Karena ibu-ibu inilah yang mengetahui persis suasana kebatinan rakyat paling bawah,” ujar Wihaji.
Pendampingan TPK mencakup verifikasi data, edukasi, pemantauan kesehatan dan gizi, serta pengawalan tumbuh kembang anak, terutama selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Penguatan peran kader TPK diharapkan membuat pendataan, intervensi gizi, dan evaluasi keluarga sasaran berjalan lebih terintegrasi di Kabupaten Ciamis. ( DN).

[…] Baca Juga : Bupati Ciamis Soroti Beda Data Stunting Hasil Survei […]